Melempar Bola ke Dinding

Filsuf sableng dari Tibet memaparkan bahwa hidup ini seperti kita melempar bola ke dinding, semakin kuat kita melempar, semakin kuat kita nerima efek pantulnya… kalau kita berbuat baik pada orang lain, kita pun akan menerima balasan perbuatan baik, mungkin bukan dari orang tersebut, begitu pula sebaliknya… kepedihan yang kita perbuat atas orang lain akan kembali ke kita.

Ceritanya singkatnya saat itu sang filsuf menerima kedatangan seorang jawara terkenal yang lagi mengalami kesedihan luar biasa karena ditinggal mati istrinya…. oleh sang filsuf ditanya.. “Mengapa pula engkau bersedih hati”, jawab sang jawara /pendekar tersebut. “Berbagai ragam masalah dan pertempuran telah saya lalui, berbagai kesedihan dan luka telah saya alami, semua itu tak membuat saya bersedih hati. Tapi saat ini saya merasa kehilangan arah, karena saya terluka karena kehilangan wanita yang sangat saya cintai, saya sangat mencintai dirinya lebih dari mencintai diri sendiri”,

Sang filsuf menjawab..”Bukan seperti itu, sesungguhnya engkau hanyalah mencintai dirimu sendiri”. Sang pendekar tersinggung dan serasa meledak kemarahannya. Namun sang filsuf dengan arif meneruskan kalimatnya “Jika anda mencintai seseorang, maka anda akan merelakan orang lain untuk bahagia apapun bentuk pilihan dan keadaannya… dan seseorang dengan mudah mengakui bahwa itu dia mencintai seseorang, padahal itu hanya sebuah ‘dalih’ untuk menutupi sang ‘super ego’ nya yang merasa tidak rela kehilangan sesuatu yang membuatnya ‘suka’.

Saat anda mengatakan bahwa anda mencintai seseorang. ‘ itu sesungguhnya anda sedang membuka diri bahwa sang super ego anda sedang menginginkan seseorang itu.. dan saat kehilangan seseorang, sang super ego anda menuntut kehadiran seseorang yang membuat sang ego ‘suka’ tersebut. Saat tak terpenuhi, tuntutan sang super ego itu membuat kehidupan tak seimbang lalu munculah kesedihan dari sang super ego tersebut… diteruskan oleh sang filsuf.

“Kalau anda mencintai istri anda tersebut, anda harus mengikhlaskannya menempuh “kehidupan barunya” karena kalau istri anda masih hidup, barang kali dia tidak bahagia dengan kehidupan & pertarungan-pertarungan anda, dengan tingkah laku anda yang banyak berkait dengan pembunuhan sesama apapun alasannya…’

Belajar dari kisah tersebut rasanya kita bisa belajar bahwa kadang kita mudah menutupi realita dengan realita lain, alias mencari kambing hitam atas segala kegagalan dan kepedihan yang kita alami dengan meng-atas namakan ‘cinta’ untuk menutupi gejolak nafsu dan keinginan sang ego kita ..

source : unknown

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: